Selasa, 27 Desember 2011


LARANGAN MEMAKAN BURUNG PUYUH
DAN TUMBUHAN JAWA-JALI

Budaya di pulau Bali sangat kental sekali dengan mitos dan larangan- larangan yang sampai sekarang masih dipercaya dan dilaksanakan oleh masyarakat Bali. Mitos dan larangan-larangan tersebut berasal dari janji atau sumpah para leluhur yang harus ditaati dan dijalani dengan baik. Salah satu mitos atau larangan yang sampai sekarang masih ditaati oleh sekelompok masyarakat Bali atau dadya yang bernama Dadya Sentane Dalem Tarukan yaitu tidak boleh memakan telur burung puyuh dan tumbuhan jawa-jali. Asal mula larangan ini ada, berasal dari sebuah legenda yang menceritakan salah satu Keturunan Raja Bali yang berasal dari Majapahit yaitu Dalem Made atau dipanggil Dalem Tarukan bersumpah tidak akan memakan  burung puyuh dan tumbuhan jawa-jali.
Ceritanya berawal dari pengejaran terhadap Dalem Tarukan oleh pasukan Dulang Mangap atau prajurit khusus dari Kerajaan Samprangan. Pengejaran ini bermasud untuk menangkap Dalem Tarukan yang dianggap sudah membunuh Putri kesayangan dari Raja Samprangan. Padahal, meninggalnya putri Raja Samprangan bukan dibunuh oleh Dalem Tarukan, namun Sang Raja yang sudah terhasut oleh para pengikutnya tidak bisamenahan emosi lagi untuk menangkap Dalem Tarukan. Singkat cerita Dalem Tarukan yang sudah meninggalkan kerajaannya yaitu Kerajaan Tarukan pergi ke berbagai desa di arah timur untuk bersembunyi. Namun, dalam persembunyian di berbagai Desa ini hampir diketahui jejaknya oleh pasukan Dulang Mangap. Salah satu desa yang pernah digunakan tempat persembunyian oleh Dalem Tarukan yaitu Desa Pantunan. Di desa inilah berawalnya Dalem Tarukan mengucapkan sumpahnya tidak akan memakan burung puyuh dan tumbuhan jawa-jali .
  Para pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan ada di Desa Pantunan, segera ke sana. Beberapa saat sebelum kedatangan pasukan Dulang Mangap,  Dalem Tarukan telah diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di bawah pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur. Ada sepasang burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas persembunyian beliau seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor burung puyuh berkeliaran dekat kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar sudah berada dekat sekali ke pohon Jawa dan Jali tempat persembunyian beliau. Hampir saja mereka menguakkan semak-semak itu, namun tiba-tiba seorang pengejar mencegah. "Mana mungkin ada orang di situ, lihatlah burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan tenang; jika ada manusia mereka sudah pasti terbang menghindar".
Pengejar yang lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan. Terhindarlah Ide Bethara Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu keluar dari semak-semak. Alangkah besar perlindungan Ide Sanghyang Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan burung-burung itulah yang diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau.
Di saat itulah dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak dan burung-burung, sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan beliau tidak membunuh/merusak serta memakan Jawa, Jali, burung perkutut dan burung puyuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar