LARANGAN MEMAKAN BURUNG PUYUH
DAN TUMBUHAN JAWA-JALI
Budaya di pulau
Bali sangat kental sekali dengan mitos dan larangan- larangan yang sampai
sekarang masih dipercaya dan dilaksanakan oleh masyarakat Bali. Mitos dan
larangan-larangan tersebut berasal dari janji atau sumpah para leluhur yang
harus ditaati dan dijalani dengan baik. Salah satu mitos atau larangan yang
sampai sekarang masih ditaati oleh sekelompok masyarakat Bali atau dadya yang bernama Dadya Sentane Dalem
Tarukan yaitu tidak boleh memakan telur burung puyuh dan tumbuhan jawa-jali. Asal mula
larangan ini ada, berasal dari sebuah legenda yang menceritakan salah satu
Keturunan Raja Bali yang berasal dari Majapahit yaitu Dalem Made atau dipanggil
Dalem Tarukan bersumpah tidak akan memakan burung puyuh dan tumbuhan jawa-jali.
Ceritanya
berawal dari pengejaran terhadap Dalem Tarukan oleh pasukan Dulang Mangap atau prajurit khusus dari
Kerajaan Samprangan. Pengejaran ini bermasud untuk menangkap Dalem Tarukan yang
dianggap sudah membunuh Putri kesayangan dari Raja Samprangan. Padahal,
meninggalnya putri Raja Samprangan bukan dibunuh oleh Dalem Tarukan, namun Sang
Raja yang sudah terhasut oleh
para pengikutnya tidak bisamenahan emosi lagi untuk menangkap Dalem Tarukan.
Singkat cerita Dalem Tarukan yang sudah meninggalkan kerajaannya yaitu Kerajaan
Tarukan pergi ke berbagai
desa di arah timur untuk bersembunyi. Namun, dalam persembunyian di berbagai
Desa ini hampir diketahui jejaknya oleh pasukan Dulang Mangap. Salah satu desa yang pernah
digunakan tempat persembunyian oleh Dalem Tarukan yaitu Desa Pantunan. Di desa
inilah berawalnya Dalem Tarukan mengucapkan sumpahnya tidak akan memakan burung
puyuh dan tumbuhan jawa-jali .
Para
pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan ada di Desa Pantunan,
segera ke sana. Beberapa saat sebelum kedatangan pasukan Dulang Mangap, Dalem Tarukan
telah diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di
bawah pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur. Ada sepasang
burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas persembunyian beliau
seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor burung puyuh berkeliaran dekat
kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar sudah berada dekat sekali ke pohon
Jawa dan Jali tempat persembunyian beliau. Hampir saja mereka menguakkan
semak-semak itu, namun tiba-tiba seorang pengejar mencegah. "Mana mungkin
ada orang di situ, lihatlah burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan
tenang; jika ada manusia mereka sudah pasti terbang menghindar".
Pengejar yang
lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan. Terhindarlah Ide Bethara
Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu keluar dari semak-semak. Alangkah
besar perlindungan Ide Sanghyang Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan
burung-burung itulah yang diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau.
Di saat itulah
dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak dan burung-burung,
sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan beliau tidak membunuh/merusak
serta memakan Jawa, Jali, burung perkutut dan burung puyuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar