Selasa, 27 Desember 2011


TAJEN MENYEBABKAN PERGESERAN
MORAL MASYARAKAT
Dari jaman dulu tajen memang sulit dipisahkan dari masyarakat Bali, karena selalu dikaitkan dengan pelaksanaan upacara di Pulau Bali. Tajen merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan/ keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.  
Tetapi, bagi sebagain besar orang tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntungan tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang.  Jika dilihat saat ini, tajen tidak lagi sesuai dengan realitas jaman dulu yang menganggap tajen sebagai sebuah ritual dalam upacara agama yang disebut dengan tabuh rah namun, sekarang tajen lebih identik dengan judi yang menyebabkan berbagai pergeseran moral dalam masyarakat.
Pergeseran moral yang dimaksud dalam masyarakat ini seperti, banyak masyarakat yang jatuh miskin sampai-sampai ada yang menjual tanahnya untuk bisa bermain tajen. Kejahatan seperti perkelahian, kerusuhan, KDRT pun sering terjadi akibat adanya tajen. Seperti, yang terjadi di masyarakat Bali saat ini, banyak para ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh sang suami. Ini disebabkan karena sang suami yang sering ke tajen mengalami kekalahan dan akhirnya dilampiaskan di rumah terutama kepada sang istri. Pelampisan ini bisa berupa penekanan psikologis, pemukulan, dll.  Bahkan kekerasan dalam rumah tangga ini sampai merembet ke keluarga sang istri yang tidak terima oleh perlakuan suaminya tersebut. Akhirnya pertengkaran antar dua pihak keluarga pun bisa terjadi.
Kejadian lebih lucu lagi yang terjadi dalam masyarakat saat ini, tajen menyebabkan beberapa anggota masyarakat menjual tanahnya. Namun apa daya, uang hasil penjualan tanah yang seharusnya digunakan untuk hal lebih bermanfaat malah dihabiskan di arena tajen. Akhirnya, uang yang diharapkan bisa membuat si bebotoh menjadi kaya tersebut malah sebaliknya, membuat si bebotoh mengalami kemiskinan. Masalah seperti ini, mungkin terjadi karena hobi seseorang terhadap bermain tajen yang terlalu berlebihan atau karena berhutang yang cukup besar kepada salah satu temannya saat bermain tajen.
Bukan itu saja, tajen juga menyebabkan perkelahian atau kerusuhan antar dua banjar bahkan desa. Ini bisa terjadi, karena masyarakat yang bermain tajen dalam satu arena tersebut bukan Cuma dari dari satu banjar atau desa saja bahkan dari lain banjar atau desa. Contohnya, kerusuhan yang terjadi antar dua banjar di desa Siangan, Gianyar. Kerusuhan ini terjadi akibat adanya saling ejek antar sekelompok orang yang berlainan banjar dalam sebuah arena tajen. Karena, ada satu kelompok yang tidak terima dengan ejekan tersebut, kelompok tersebut melapor kepada teman-teman yang lainnya. Akhirnya kerusuhan pun tidak bisa dihindari.
            Sebaiknya, hal-hal seperti ini harus segera disadari oleh masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat perlu mengingat kembali bahwa sebenarnya tajen/judi itu tidak baik bagi siapapun yang melakukannya. Karena agama manapun tidak ada yang mengajari/menghalalkan tajen/judi tersebut. Pemerintah pun harus segera mengantisipasi atau membuat peraturan untuk melarang adanya tajen/judi yang sudah kelewatan batas ini. Dengan begitu, pergeseran moral masyarakat yang disebabkan oleh adanya tajen/judi tersebut bisa diminimalisasikan dan tidak akan ada lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar