TAJEN MENYEBABKAN PERGESERAN
MORAL MASYARAKAT
Dari jaman dulu tajen
memang sulit dipisahkan dari masyarakat Bali, karena selalu dikaitkan dengan
pelaksanaan upacara di Pulau Bali. Tajen merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya
darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari
ketamakan/ keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh
rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta
yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan
umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.
Tetapi, bagi sebagain besar orang tajen
telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntungan
tetapi banyak juga yang menjadikan tajen
sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke
tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari
kemenangan dalam bentuk uang. Jika dilihat saat ini, tajen tidak lagi sesuai dengan realitas jaman dulu yang menganggap
tajen sebagai sebuah ritual dalam upacara agama yang disebut dengan tabuh rah namun, sekarang tajen lebih
identik dengan judi yang menyebabkan berbagai pergeseran moral dalam masyarakat.
Pergeseran moral yang dimaksud dalam masyarakat ini
seperti, banyak masyarakat yang jatuh miskin sampai-sampai ada yang menjual
tanahnya untuk bisa bermain tajen. Kejahatan seperti perkelahian, kerusuhan,
KDRT pun sering terjadi akibat adanya tajen. Seperti, yang terjadi di
masyarakat Bali saat ini, banyak para ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan
oleh sang suami. Ini disebabkan karena sang suami yang sering ke tajen mengalami kekalahan dan akhirnya
dilampiaskan di rumah terutama kepada sang istri. Pelampisan ini bisa berupa
penekanan psikologis, pemukulan, dll. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga ini sampai
merembet ke keluarga sang istri yang tidak terima oleh perlakuan suaminya
tersebut. Akhirnya pertengkaran antar dua pihak keluarga pun bisa terjadi.
Kejadian lebih lucu lagi yang terjadi dalam masyarakat
saat ini, tajen menyebabkan beberapa anggota masyarakat menjual tanahnya. Namun
apa daya, uang hasil penjualan tanah yang seharusnya digunakan untuk hal lebih
bermanfaat malah dihabiskan di arena tajen. Akhirnya, uang yang diharapkan bisa
membuat si bebotoh menjadi kaya tersebut malah sebaliknya, membuat si bebotoh
mengalami kemiskinan. Masalah seperti ini, mungkin terjadi karena hobi
seseorang terhadap bermain tajen yang terlalu berlebihan atau karena berhutang
yang cukup besar kepada salah satu temannya saat bermain tajen.
Bukan itu saja, tajen juga menyebabkan perkelahian atau
kerusuhan antar dua banjar bahkan
desa. Ini bisa terjadi, karena masyarakat yang bermain tajen dalam satu arena
tersebut bukan Cuma dari dari satu banjar
atau desa saja bahkan dari lain banjar
atau desa. Contohnya, kerusuhan yang terjadi antar dua banjar di desa Siangan, Gianyar. Kerusuhan ini terjadi akibat
adanya saling ejek antar sekelompok orang yang berlainan banjar dalam sebuah
arena tajen. Karena, ada satu kelompok yang tidak terima dengan ejekan
tersebut, kelompok tersebut melapor kepada teman-teman yang lainnya. Akhirnya
kerusuhan pun tidak bisa dihindari.
Sebaiknya,
hal-hal seperti ini harus segera disadari oleh masyarakat maupun pemerintah.
Masyarakat perlu mengingat kembali bahwa sebenarnya tajen/judi itu tidak baik bagi siapapun yang melakukannya. Karena
agama manapun tidak ada yang mengajari/menghalalkan tajen/judi tersebut. Pemerintah pun harus segera mengantisipasi
atau membuat peraturan untuk melarang adanya tajen/judi yang sudah kelewatan batas ini. Dengan begitu,
pergeseran moral masyarakat yang disebabkan oleh adanya tajen/judi tersebut bisa diminimalisasikan dan tidak akan ada
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar